Bicaranews.online – Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong menyusun Rencana Aksi Daerah Kesehatan Ibu dan Anak (RAD KIA) periode 2027–2031 untuk menekan angka kematian ibu dan anak. Upaya tersebut dibahas bersama Yayasan IPAS Indonesia di Kantor Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda), Kamis (1/10/2026).
Berdasarkan data yang disampaikan dalam bahan kegiatan, Parigi Moutong mencatat 10 kasus kematian ibu sepanjang 2025, tertinggi kedua di Sulawesi Tengah, serta 70 kasus kematian bayi baru lahir.
Eklampsia disebut sebagai penyebab utama kematian ibu. Sementara itu, gangguan respirasi dan kardiovaskular mendominasi penyebab kematian anak. Sejumlah faktor lain yang menjadi perhatian meliputi angka perkawinan anak sebesar 13,49 persen pada 2024, cakupan pemeriksaan kehamilan enam kali sebesar 44,25 persen, serta keterbatasan akses terhadap sanitasi dan air minum layak.
Kepala Bappelitbangda Parigi Moutong, Irwan, SKM, M.Kes, mengatakan RAD KIA untuk periode 2027–2031 harus memuat indikator yang jelas dan dapat diterapkan oleh setiap perangkat daerah, bukan sekadar menjadi dokumen perencanaan.
“Dalam RAD nantinya, tidak lagi bersifat umum, jadi harus aplikatif dan siap dilaksanakan. Indikatornya harus jelas,” ujar Irwan.
Ia juga menekankan perlunya perubahan pendekatan dalam penanganan masalah kesehatan ibu dan anak. Menurutnya, pemerintah daerah perlu berinovasi untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk komunitas adat terpencil, tanpa menyalahkan masyarakat atas persoalan yang terjadi.
Penyusunan rencana aksi tersebut akan menggunakan analisis data berdasarkan karakteristik wilayah selatan, tengah, dan utara Parigi Moutong. Pemerintah daerah juga merencanakan pelibatan masyarakat melalui lokakarya dan diskusi kelompok terarah atau focus group discussion (FGD), mulai dari tingkat desa hingga kabupaten.
Konsultan IPAS Indonesia, Nur Safitri Lasibani, mengatakan penyusunan RAD KIA secara partisipatif diperlukan untuk membangun keterlibatan berbagai pihak dalam pelaksanaan program.
“RAD ini disusun secara partisipatif agar tercipta rasa kepemilikan oleh multipihak dan lintas sektor. Fokus utama kita adalah memastikan program prioritas dan alokasi anggaran KIA benar-benar masuk dalam APBD 2027,” jelas Nur Safitri.
Pemkab Parigi Moutong bersama IPAS Indonesia juga mendorong integrasi program kesehatan ibu dan anak ke dalam perencanaan dan penganggaran daerah tahun 2027.
Untuk mendukung pelaksanaannya, pemerintah kabupaten telah membentuk Tim Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu dan Anak (TP2AKIA). Tim tersebut akan mengoordinasikan program lintas perangkat daerah, melakukan pemantauan pertengahan tahun, serta mengevaluasi capaian tahunan.
Parigi Moutong juga disebut sebagai lokasi percontohan Kerangka Kerja Nasional Penurunan Kematian Ibu dan Anak (KKNPKIA) di Sulawesi Tengah. Pemilihan daerah ini dalam bahan kegiatan dikaitkan dengan tantangan geografis, kapasitas fiskal, dan kebutuhan penanganan kasus kematian ibu dan anak.






