Bicaranews.online — Sedimen berlumpur yang terbawa aliran Sungai Olaya hingga ke kawasan pesisir Desa Olaya, Kabupaten Parigi Moutong, menjadi perhatian setelah perubahan warna air terlihat di sekitar muara sungai.
Pantauan di kawasan muara pada 18–19 Agustus 2026 menunjukkan material berlumpur terbawa dari sungai menuju laut. Sedimen terlihat menyebar hingga ratusan meter dari titik pertemuan aliran sungai dengan perairan laut.
Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan hasil analisis kualitas air yang dirilis Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III Palu pada Jumat (21/8/2026). Berdasarkan evaluasi terhadap 23 parameter dengan mengacu pada baku mutu air kelas II sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021, Sungai Olaya dan Sungai Kayuboko dikategorikan mengalami pencemaran ringan.
Meski masuk kategori cemar ringan secara keseluruhan, hasil pengujian menunjukkan terdapat sejumlah parameter yang berada di atas baku mutu dan perlu mendapat perhatian.
Salah satu parameter yang menonjol adalah fecal coliform. Pada Sungai Olaya maupun Sungai Kayuboko, kadarnya tercatat lebih dari 18.980 cfu/100 mililiter, jauh di atas baku mutu sebesar 1.000 cfu/100 mililiter.
Untuk parameter total coliform, Sungai Olaya juga tercatat lebih dari 18.980 cfu/100 mililiter. Sementara Sungai Kayuboko berada pada angka 4.940 cfu/100 mililiter dengan baku mutu 5.000 cfu/100 mililiter.
Parameter biological oxygen demand (BOD) juga melampaui ambang yang ditetapkan. Nilai BOD Sungai Olaya tercatat 4,25 miligram per liter dan Sungai Kayuboko 4,50 miligram per liter, sedangkan baku mutu yang digunakan sebesar 3,00 miligram per liter.
Kandungan besi terlarut turut menjadi perhatian. Hasil pengujian mencatat kadar besi sebesar 4,88 miligram per liter di Sungai Olaya dan 1,85 miligram per liter di Sungai Kayuboko.
Dalam hasil monitoringnya, BWS Sulawesi III Palu mengaitkan persoalan kualitas air dengan kondisi di wilayah hulu serta aktivitas di sepanjang daerah aliran sungai. Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) disebut sebagai salah satu sumber masuknya sedimen dan material pencemar ke badan sungai.
Selain aktivitas pertambangan, limbah domestik dan peternakan juga disebut berkontribusi terhadap tingginya sejumlah indikator pencemaran organik.
Dampak material yang terbawa aliran sungai kemudian terlihat di kawasan hilir. Pantauan di sekitar muara Sungai Olaya memperlihatkan air sungai berwarna keruh kecokelatan membawa sedimen menuju perairan laut. Area perairan di sekitar muara tampak memiliki warna berbeda dibandingkan air laut di sekitarnya.
Kondisi tersebut menjadi gambaran bagaimana material dari wilayah daratan dapat terbawa mengikuti aliran sungai hingga mencapai kawasan pesisir.
Sejumlah nelayan di sekitar pesisir Olaya juga menyampaikan adanya penurunan hasil tangkapan sehingga mereka harus melaut lebih jauh untuk mendapatkan ikan. Namun, kondisi tersebut belum dapat secara langsung disimpulkan sebagai dampak pencemaran Sungai Olaya karena masih membutuhkan data ekologis dan perikanan yang lebih spesifik.
Begitu pula dengan kondisi biota laut di sekitar muara. Perubahan warna air dan tingginya sedimentasi merupakan indikator lingkungan yang perlu diperhatikan, tetapi diperlukan pengujian lebih lanjut untuk memastikan dampaknya terhadap biota dan sumber daya perikanan.
Hasil monitoring BWS menunjukkan persoalan kualitas air Sungai Olaya tidak hanya terlihat dari perubahan warna. Tingginya kekeruhan, bakteri indikator, BOD dan kandungan besi terlarut menunjukkan adanya tekanan terhadap kualitas air.
BWS Sulawesi III Palu juga menegaskan bahwa air Sungai Olaya dan Kayuboko tidak dapat digunakan secara langsung tanpa pengolahan teknis yang memadai. Untuk kebutuhan air baku, diperlukan proses pengolahan sebelum dimanfaatkan. Sementara untuk irigasi, kandungan sedimen yang tinggi berpotensi membawa material endapan ke jaringan maupun lahan sehingga membutuhkan pengelolaan.
Penanganan pun direkomendasikan dilakukan dari kawasan hulu hingga hilir. Beberapa langkah yang didorong antara lain penertiban aktivitas pertambangan yang tidak sesuai ketentuan, pengendalian erosi dan sedimentasi melalui konservasi lahan serta pembangunan sarana pengendali, pengelolaan limbah domestik dan peternakan, hingga pemantauan kualitas air secara berkala.
Bagi masyarakat pesisir Desa Olaya, persoalan tersebut kini terlihat secara langsung melalui aliran sungai yang membawa lumpur menuju laut. Sementara bagi nelayan, kondisi perairan di sekitar muara menambah kekhawatiran terhadap keberlanjutan sumber daya perikanan.
Namun, untuk memastikan apakah perubahan kualitas perairan sungai berkaitan langsung dengan penurunan hasil tangkapan atau kondisi biota laut, diperlukan penelitian lebih lanjut, termasuk pengujian kualitas air laut, pemetaan sebaran sedimen, pemeriksaan kondisi biota serta perbandingan data hasil tangkapan nelayan dari waktu ke waktu.
Hasil monitoring BWS Sulawesi III Palu setidaknya menunjukkan bahwa persoalan Sungai Olaya dan Sungai Kayuboko perlu ditangani secara menyeluruh. Aktivitas di bagian hulu berpotensi membawa material mengikuti aliran hingga ke wilayah hilir dan bermuara di kawasan pesisir.
Di muara Desa Olaya, proses itu kini terlihat ketika aliran sungai yang membawa sedimen bertemu dengan laut.
