SPN Polda Sulteng Terapkan Kurikulum OBE, Pembelajaran Bintara Diperbanyak Praktik

/ Foto : Bidhumas Polda Sulteng

Bicaranews.onlineSekolah Polisi Negara (SPN) Polda Sulawesi Tengah menerapkan kurikulum Outcome Based Education (OBE) dengan menitikberatkan proses pembelajaran pada capaian kompetensi calon Bintara Polri. Dalam penerapannya, porsi pembelajaran di SPN disebut terdiri atas 30 persen teori dan 70 persen diskusi serta praktik.

Penerapan kurikulum tersebut dibahas Kepala SPN Polda Sulteng Kombes Pol Seminar Sebayang dalam Podcast Presisi Polda Sulteng, Kamis (6/8/2026). Ia hadir bersama Danki Pengasuh Iptu Hariyanto untuk menjelaskan perubahan pola pendidikan dan pembinaan peserta didik di lingkungan SPN.

Seminar mengatakan kurikulum OBE dirancang agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan organisasi kepolisian dan tuntutan pelayanan kepada masyarakat.

“Kurikulum OBE ini berorientasi pada outcome, yaitu menghasilkan Bintara Polri yang profesional sebagai pelaksana tugas-tugas kepolisian yang berkarakter kebhayangkaraan, menjunjung tinggi HAM, demokratis dan humanis,” kata Seminar.

Menurutnya, penerapan OBE tidak hanya berfokus pada materi yang diberikan kepada siswa, tetapi juga mengukur capaian kompetensi yang harus dimiliki setelah menyelesaikan pendidikan.

Proses pembelajaran juga didukung penggunaan Learning Management System (LMS) sebagai salah satu sarana pemantauan pembelajaran. Seminar mengatakan penerapan kurikulum memiliki indikator dan matriks yang digunakan sebagai bagian dari pengawasan proses pendidikan.

“Jadi, penerapan kurikulum OBE ada indikator dan matriks yang harus dipenuhi sebagai bentuk kontrol dari Lemdik Polri,” ujarnya.

Selain pembelajaran di kelas, siswa didorong aktif mencari referensi tambahan menggunakan perangkat digital seperti telepon pintar dan laptop. Menurut Seminar, kebiasaan tersebut diperlukan agar peserta didik tidak hanya bergantung pada modul yang diberikan selama pendidikan.

“Dalam proses diskusi mereka dituntut mencari literatur tambahan sehingga penggunaan gadget dan laptop menjadi bagian dari pembelajaran,” katanya.

Pembentukan karakter juga menjadi bagian dari pola pendidikan yang diterapkan di SPN Polda Sulteng. Seminar memperkenalkan pola pembinaan yang disebut “Pendekar”, singkatan dari Penyayang, Dedikasi, dan Karakter.

Konsep tersebut digunakan sebagai pendekatan pembinaan untuk membentuk peserta didik agar mampu memberikan pelayanan secara humanis serta memahami dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.

“Karakter kebhayangkaraan yang baik akan melahirkan pelayan masyarakat yang baik dan meningkatkan kepercayaan publik,” ujar Seminar.

Danki Pengasuh SPN Polda Sulteng Iptu Hariyanto menambahkan, pendekatan pendidikan di SPN kini diarahkan pada pola pembinaan yang humanis dan menolak kekerasan, rasisme, maupun kekerasan verbal.

Menurut Hariyanto, tenaga pendidik, instruktur, dan pengasuh mendapat pelatihan untuk menerapkan kurikulum OBE. Evaluasi terhadap pelaksanaan pendidikan juga dilakukan secara berkala setiap minggu.

“Para gadik, instruktur dan pengasuh dibekali pelatihan khusus agar mampu mengoperasionalkan kurikulum OBE ini, serta dilakukan evaluasi dan analisis setiap minggu,” katanya.

Seminar mengatakan perubahan pola pendidikan tersebut diarahkan untuk mempersiapkan Bintara Polri agar memiliki kemampuan yang dapat diterapkan sejak mulai menjalankan tugas setelah dilantik.

Ia juga menyatakan SPN Polda Sulteng berkomitmen membentuk personel yang profesional dan berintegritas serta menjalankan pendidikan tanpa kekerasan dan pungutan liar.

“Kami berkomitmen mencetak SDM Polri yang unggul, profesional, berintegritas, bebas kekerasan dan pungli, sehingga lulusan kurikulum OBE benar-benar siap mengabdi kepada masyarakat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *