Bicaranews.online – Penampilan Angngaru atau Osong Yange oleh Ikatan Pemuda Sulawesi Selatan (IPSS) Parigi Moutong turut meramaikan pembukaan Festival Literasi Kabupaten Parigi Moutong, Rabu (28/10/2026), di Kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Parigi Moutong.
Penampilan tersebut dibawakan oleh Iwan Sukri, Pian, dan Isnan. Pertunjukan yang berlangsung pada jeda istirahat itu turut mencairkan suasana dan menambah kemeriahan rangkaian pembukaan Festival Literasi.
Hal ini menjadi kesempatan bagi Ikatan Pemuda Sulawesi Selatan (IPSS) Parigi Moutong dalam memperkenalkan budaya kepada masyarakat Parigi Moutong melalui rangkaian acara Festival Literasi saat itu.
Penampilan tersebut diiringi tabuhan Gandrang (gendang) dan Pui-Pui (alat musik tiup). Salah satu penampil menggunakan Badik atau Kawali jenis Gecong, serta keris dengan lamba Sura atau luk sembilan yang diselipkan di pinggang sebagai perhiasan dan biasa digunakan dalam acara adat.
Para pemeran tampil dengan pakaian adat bernuansa abu-abu dan hijau, dipadukan dengan sarung bermotif serta penutup kepala berwarna kuning.
Menurut Isnan, penampilan Angngaru atau Osong di Festival Literasi bertujuan agar saudara yang berdarah Sulawesi Selatan tetapi lahir dan besar di tanah Sulawesi Tengah bisa mengetahui bahwa ada tradisi Angngaru atau Osong yang berasal dari tanah leluhur.
“Penampilan ini juga sebagai bentuk pengenalan budaya yang harus tetap dilestarikan walaupun kita sudah tidak menetap di tanah kelahiran leluhur, tepatnya tanah Bugis dan Makassar,” ujar Isnan melalui pesan WhatsApp.
Ia menegaskan bahwa pertunjukan Angngaru atau Osong ini merupakan sebuah ikrar setia seorang kesatria kepada Raja atau pemimpin pada masa kerajaannya Bugis-Makassar.
Isnan berpesan kepada generasi kedepan untuk tetap menjaga budaya dan tradisi meski sudah tidak menetap di tanah leluhur, (Bugis-Makassar) karena tradisi dan budaya bisa dikenali hampir di setiap tempat.
“Semoga generasi kedepanya tidak lagi malu untuk memperkenalkan kearifan lokalnya dimanapun kalian berada,” ujar Isnan melalui pesan WhatsApp.
Tradisi ini menjadi simbol keteguhan dalam menyampaikan ikrar dan menjunjung tinggi kehormatan serta amanah.
Asal-usul Angngaru berasal dari tradisi masyarakat Makassar di Sulawesi Selatan. Angngaru pada mulanya bukan sekadar pertunjukan, melainkan sumpah/ikrar kesetiaan yang berkaitan dengan hubungan antara pemimpin dan orang yang mengabdi kepadanya. Penelitian Universitas Negeri Makassar menyebut tradisi ini berakar pada kontrak politik antara hamba dan tuannya.
Pada masa kerajaan, Angngaru juga berkaitan dengan prajurit atau tubarani. Sebelum berangkat ke medan perang, prajurit mengucapkan aru di hadapan pemimpin sebagai bentuk sumpah setia dan untuk membangkitkan keberanian serta semangat perjuangan.
Karena itu, unsur yang paling kuat dalam Angngaru adalah keberanian, kesetiaan, kehormatan, dan pengabdian. Orang yang membawakan Angngaru biasanya menyampaikan syair atau ikrar dengan suara lantang. Dalam bentuk tradisional tertentu, badik juga menjadi bagian dari simbol pertunjukan.
Dalam pelaksanaannya, orang yang melakukan Angngaru biasanya disebut pangngaru. Ia menyampaikan syair atau ikrar dengan suara lantang di hadapan pemimpin atau orang yang dihormati. Dalam bentuk tradisional tertentu, penggunaan badik juga menjadi bagian dari simbol dan tata cara pertunjukan.
Seiring perkembangan zaman, fungsi Angngaru mengalami perubahan. Yang awalnya sangat berkaitan dengan sumpah setia dan hubungan politik/adat, kemudian berkembang menjadi bagian dari seni pertunjukan, penyambutan tamu, upacara adat, pernikahan, dan berbagai kegiatan kebudayaan.
Penampilan Angngaru tersebut turut menjadi bagian dari pengenalan budaya dalam rangkaian Festival Literasi. Tradisi lisan yang dibawakan melalui syair dan gerakan itu tidak hanya menjadi hiburan bagi para tamu, tetapi juga memperkenalkan nilai sejarah dan budaya kepada masyarakat yang hadir.






