Bicaranews.online – Ketua Ikatan Pemuda Sulawesi Selatan (IPSS) Parigi Moutong, Muhammad Rusydi Kadir, SH., MH., seusai dilantik secara resmi ia memaparkan tiga latar belakang yang menjadi alasan terbentuknya IPSS di Parigi Moutong. Hal itu ia sampaikan di aula lantai 2 Kantor Bupati, Sabtu (17/10/2026).
Ia menjelaskan ada tiga latar belakang yang menjadi alasan terbentuknya IPSS di Parigi Moutong.
Pertama, adanya masalah kekosongan identitas yang dirasakan di tingkatan pemuda.
Ia menceritakan bahwasanya IPSS tidak terbentuk oleh satu dua orang saja, tetapi seluruhnya turut merasakan kekosongan identitas yang sama.
Kedua, adanya Kofatis Kepemudaan, ia menyebutkan adanya kehilangan arah bagi anak-anak muda hari ini.
“Inna fi yabi sumbani amara ummah wa fi akdamia hayataha.” “Sungguh di tangan pemudalah harapan umat, di tangan pemudalah harapan bangsa, dan di kakinya ia menentukan arahnya,” ujarnya.
Rusydi menyoroti salah satu berita yang menyampaikan bahwa Sulawesi Tengah Berada di peringkat keempat peredaran narkoba terbesar.
“Dan kita tahu bersama, peredaran narkoba terbesar dan penggunanya pada umumnya adalah usia-usia produktif, khususnya anak-anak muda, inilah urusan kami. IPSS sengaja dibentuk untuk mengajak seluruh pemuda-pemudi masyarakat Sulawesi Selatan yang ada di wilayah Parigi Moutong, seminimal-minimalnya kita mengajak dalam kegiatan-kegiatan yang positif,” ujarnya.
Ketiga, alasan IPSS dibentuk yaitu adanya arus globalisasi yang sangat-sangat begitu kuat, dua efek bisa ditimbulkan yakni dehumanisasi, dan hilangnya kebudayaan lokal.
Ia berharap dengan adanya IPSS ini berusaha untuk mengembangkan kebudayaan Sulawesi Selatan.
“Itulah berapa langkah yang akan kami lakukan ke depannya yaitu dengan menciptakan regenerasi, Sebagaimana masih awal, tentu kami membutuhkan ke depannya IPSS ini dapat bergenerasi, tidak selesai di awal saja, tapi kita baru memulai satu perjalanan yang panjang,” ujarnya.
Adapun langkah internalisasi juga akan dilakukan melalui kegiatan kebudayaan, “Kami akan belajar sejarah, kami akan belajar falsafah, dan kami akan belajar nilai-nilai kebudayaan yang berasal dari Sulawesi Selatan,” ujarnya.
Rusydi menegaskan jangan sampai melalui arus global anak-anak muda lebih mengenal budaya asing dibandingkan budaya berasal dari Sulawesi Selatan.






